Kotoran kuning pada merpati adalah gejala, bukan penyakit. Penyebabnya bisa perubahan pakan (wortel segar serta sayur dan buah lain bisa mengubah warna kotoran), paparan zat beracun yang mengganggu hati, atau infeksi, paling sering salmonelosis (paratifoid). Diare kuning yang encer, apalagi jika bercampur darah, perlu segera diperiksakan ke dokter hewan burung. Warna kotoran (guano) adalah salah satu petunjuk utama kesehatan merpati.
Catatan: artikel ini berisi informasi umum dan tidak menggantikan saran dokter hewan burung atau petugas rehabilitasi satwa liar yang berizin. Jika Anda menemukan burung yang terluka atau sakit, hubungi dokter hewan atau penyelamat satwa di daerah Anda.
Apa penyebab kotoran kuning pada merpati?
Karena ini hanya gejala dan bukan penyakit, kami tidak bisa menyebutkan satu penyebab pasti kotoran kuning pada burung.
Ada banyak kemungkinan, mulai dari paparan zat beracun yang membuat hati merpati bekerja tidak normal (merpati tidak punya kantong empedu) sampai perubahan besar pada pakannya.
Beberapa makanan, seperti wortel segar serta sayur dan buah lain, bisa mengubah warna bahkan tekstur kotoran merpati Anda.
Namun kotoran kuning juga bisa menjadi tanda infeksi. Salah satu penyakit yang paling sering menimbulkan gejala ini pada burung adalah salmonelosis (paratifoid).

Merpati bisa terserang wabah salmonelosis yang mendadak dan parah, sampai beberapa ekor dalam satu kandang mati.
Jangan memberi merpati antibiotik atau obat lain lewat air minum atau pakan sebagai pencegahan rutin. Cara ini tidak menggantikan kebersihan yang baik dan justru membantu bakteri kebal obat menyebar. Jika Anda khawatir tentang merpati Anda, bawa ke dokter hewan burung.
Selain kotoran kuning, salmonelosis bisa menimbulkan gejala lain, misalnya:
- Berat badan turun
- Sangat haus
- Pincang
- Sering buang kotoran
- Tidak bisa terbang
Karena diare encer, burung cepat kekurangan cairan, sehingga salmonelosis bisa mengancam nyawa.
Ada obat khusus untuk mengatasi wabah salmonelosis, tetapi segera hubungi dokter hewan jika merpati Anda diare encer berwarna kuning, apalagi jika ada garis-garis darah.

Awalnya ditulis oleh dokter hewan kami, Cristina Vulpe, DVM, PhD. Diperbarui Oktober 2026.
Cristina memeriksa artikel kesehatan Pigeonpedia agar saran medisnya bisa dipercaya.
Bagaimana penyebab kotoran kuning didiagnosis?
Sekali lagi, ini gejala, bukan penyakit, jadi dokter hewan perlu berbagai pemeriksaan untuk menemukan penyebab sebenarnya.
Dokter bisa menduga satu hal dari gejala yang terlihat, tetapi jika ada penyakit bakteri, merpati Anda sebaiknya mendapat pengobatan yang tepat sasaran, bukan obat umum untuk berbagai penyakit sekaligus.
Resistansi antibiotik kini menjadi masalah besar bagi dokter dan dokter hewan, salah satunya karena banyak pemilik hewan mengobati burungnya sendiri tanpa berkonsultasi dengan ahli.
Akibatnya, mereka memberi antibiotik spektrum luas walaupun burungnya belum tentu terkena penyakit bakteri yang bisa diatasi dengan obat itu.
Salah satu pemeriksaan paling berguna untuk mencari tahu masalah kesehatan merpati adalah pemeriksaan feses.

Pemeriksaan feses bisa menunjukkan apakah burung punya parasit di dalam tubuhnya.
Sampel yang sama juga bisa dipakai untuk mendeteksi kuman penyakit di dalam kotoran.
Sedikit feses dicampur dengan larutan lalu diletakkan di media pertumbuhan seperti agar atau kaldu. Campuran ini disimpan pada suhu 37 °C selama beberapa hari agar bakterinya sempat berkembang biak.
Setelah itu kuman diperiksa di bawah mikroskop dan, berdasarkan ciri-cirinya, digolongkan ke dalam kelompok tertentu.
Sesudah itu ahli mikrobiologi membuat antibiogram. Sampel bakteri diletakkan di cawan petri, lalu cakram kecil berisi antibiotik ditaruh di seluruh permukaannya.
Antibiogram adalah satu-satunya pemeriksaan yang bisa menunjukkan obat apa yang tepat untuk merpati Anda.
Apakah kotoran kuning bisa diobati?
Tergantung penyebab pastinya.
Parasit dan penyebab serupa biasanya bisa diatasi dengan obat yang tepat dari dokter hewan.
Jika merpati terpapar zat beracun dan kotoran kuning muncul karena kerusakan hati yang parah, dokter hewan belum tentu bisa menyelamatkannya.
Semuanya tergantung seberapa parah keracunannya, yaitu seberapa banyak zat yang tertelan dan bagaimana kondisi kesehatan merpati secara umum (yang memengaruhi reaksi tubuhnya).

Jika dokter hewan memastikan penyebabnya salmonelosis, merpati Anda akan diberi antibiotik.
Dokter hewan akan memilih obat berdasarkan hasil pemeriksaan, sebaiknya antibiogram, bukan sekadar menebak.
Jika merpati tampak pulih dalam 2–3 hari, jangan langsung berhenti memberi obat.
Obat harus diberikan selama waktu yang dianjurkan dokter hewan, biasanya 5 sampai 10 hari, tergantung tingkat keparahan infeksi.
Cara mencegahnya
Merpati bisa tertular salmonela dari merpati liar, jadi risikonya tidak bisa dihilangkan sepenuhnya.
Namun salmonelosis yang parah biasanya muncul sebagai wabah akibat kebersihan yang buruk dan kandang yang terlalu padat.
Jika kandang Anda tidak cukup luas untuk jumlah merpati yang Anda pelihara, mereka akan hidup berdesakan.
Akibatnya, risiko mereka bersentuhan satu sama lain dan dengan cairan tubuh (termasuk kotoran) jauh lebih tinggi.
Membersihkan kandang secara rutin sangat dianjurkan.

Membersihkannya setiap pagi memang merepotkan, tetapi kebiasaan ini biasanya sangat efektif mencegah penyakit bakteri pada merpati.
Seminggu sekali, keluarkan merpati dan bersihkan kandang secara menyeluruh: bersihkan kotoran dan sisa-sisa dari lantai dan dinding kandang, lalu gunakan disinfektan, misalnya klorin.
Biarkan kandang terangin-angin beberapa jam sebelum merpati dimasukkan kembali.
Di negara empat musim, masalah ini lebih sering muncul di musim dingin karena kandang lebih sulit dibersihkan. Di Indonesia, musim hujan dan udara lembap juga membuat kandang lebih cepat kotor, jadi kebersihan tetap penting sepanjang tahun.
Sumber:
- Effect of formaldehyde and urea contaminated feed exposure into the liver of young and adult pigeons (Columba livia), Imam Hasan et al, 2021 (dalam bahasa Inggris) (opens in new tab)
- Fenbendazole and albendazole toxicity in pigeons and doves, Lauren L. Howard et al, 2002 (dalam bahasa Inggris) (opens in new tab)
- Feral pigeons: A reservoir of zoonotic Salmonella enteritidis strains?, Roel Haesendonck et al, 2016 (dalam bahasa Inggris) (opens in new tab)
- Therapy of pigeon salmonellosis with consideration of the resistance test, W. Lutghen et al, 1969 (dalam bahasa Inggris) (opens in new tab)
Panduan ini berisi informasi umum. Jika burung terluka atau sakit parah, segera bawa ke dokter hewan burung atau dokter hewan eksotik, atau ke tempat rehabilitasi satwa liar.
Kotoran juga bisa berwarna hijau, paling sering ketika merpati belum makan. Lihat kotoran merpati hijau dan panduan kotoran merpati kami.
Terakhir diperbarui: 4 November 2026 · Kesehatan
