Merpati biasanya bertelur dua butir sekali bertelur, dan sesekali tiga. Piyik merpati jarang terlihat, tetapi anggapan bahwa piyik merpati itu tidak ada hanyalah teori konspirasi yang sudah dibantah para ahli burung.

Kapan sebaiknya dikawinkan
Merpati sudah dewasa kelamin pada umur tujuh bulan, tetapi kebanyakan ahli menyarankan menunggu sampai umur satu tahun sebelum mengawinkannya. Merpati sering berpasangan seumur hidup dan setia pada satu pasangan.
Saat jantan dan betina sudah siap kawin, si jantan membawakan ranting untuk betina sebagai awal sarang sekaligus tanda ketertarikannya. Keduanya lalu membangun sarang bersama dan menyiapkannya untuk telur. Kadang pasangan merpati mulai membuat sarang kedua dan bertelur lagi saat masih meloloh anak dari sarang pertama.
Kapan merpati bertelur
Setelah sarang siap, betina bersiap bertelur.
Kira-kira 8 sampai 12 hari setelah mulai kawin, betina biasanya mengeluarkan telur pertama.
Telur ini biasanya keluar menjelang petang.
Sekitar 44 jam kemudian, betina mengeluarkan telur kedua.
Biasanya hanya ada dua telur di sarang, meskipun betina yang masih sangat muda atau sudah tua mungkin hanya bertelur satu.

Setelah kedua telur ada di sarang, pengeraman dimulai dengan sungguh-sungguh.
Biasanya betina mengeram dari petang sampai pertengahan pagi, lalu jantan menggantikan sampai petang tiba lagi.
Baca juga: Cara merawat telur merpati
Seperti apa telur merpati?
Telur merpati kecil dan berwarna putih, kadang agak krem. Tidak seperti telur banyak burung lain, telur merpati tidak berbintik dan tidak biru.
Jika Anda khawatir ada telur yang tampak tidak normal, tanyakan ke dokter hewan, tetapi jangan mengambilnya dari induknya tanpa saran.
Warna telur merpati sama pada merpati jinak maupun liar. Namun, jika membandingkan berbagai jenis burung, para ilmuwan menemukan bahwa iklim ikut memengaruhi warna telur.
Burung di daerah yang lebih dingin cenderung bertelur lebih gelap, yang mungkin lebih banyak menyerap panas. Merpati bersarang di tempat terlindung dan hampir terus-menerus mengerami telurnya, dan mungkin itu salah satu alasan telurnya tetap putih polos.
Para ilmuwan punya teori lain tentang warna telur burung. Salah satunya, warna telur menjadi kamuflase sehingga calon anak di dalamnya aman dari pemangsa jika induknya sedang tidak mengeram.
Teori lain menyebut warna telur melindunginya dari sinar UV yang merusak di alam bebas.
Ada juga teori bahwa warna telur membantu induk membedakan telurnya dari telur spesies lain, dan mungkin punya sifat antimikroba yang menjaga kesehatan anak burung selama berkembang.
Jika Anda berencana menernakkan merpati, ada baiknya Anda mengenal rupa telurnya agar bisa melihat jika ada masalah. Ingat saja, sebaiknya jangan memegang-megang telur merpati, karena perawatannya biarkan menjadi urusan induknya.
Jika karena suatu sebab merpati Anda tidak mengerami telurnya, tanyakan ke dokter hewan apa yang bisa dilakukan. Selebihnya, Anda tinggal duduk santai dan menunggu telurnya menetas.
Terakhir diperbarui: 4 November 2026 · Piyik Merpati
