Sejak 2020 · Halaman kesehatan diperiksa dokter hewan

Panduan tentang merpati kota, merpati pos, dan merpati hias, serta orang-orang yang merawatnya.

Kesehatan · Waktu baca 5 menit

Ornitosis pada merpati

Oleh Cristina Vulpe · Terbit pertama · Diperbarui
Cristina Vulpe, dokter hewan

Awalnya ditulis oleh dokter hewan kami, Cristina Vulpe, DVM, PhD. Diperbarui Oktober 2026.

Cristina memeriksa artikel kesehatan Pigeonpedia agar saran medisnya bisa dipercaya.

Ornitosis, yang juga disebut psitakosis atau klamidiosis, adalah penyakit yang umum pada merpati dan burung lain di seluruh dunia. Penyakit ini bisa menular ke manusia, jadi termasuk penyakit zoonosis. Di bawah ini dijelaskan cara merpati tertular, gejala, diagnosis, dan pengobatannya.

Catatan: artikel ini berisi informasi umum dan tidak menggantikan saran dokter hewan burung atau petugas rehabilitasi satwa liar yang berizin. Jika Anda menemukan burung yang terluka atau sakit, hubungi dokter hewan atau penyelamat satwa di daerah Anda.

Apa penyebab ornitosis pada merpati?

Ornitosis disebabkan oleh bakteri, terutama Chlamydia psittaci. Merpati juga bisa membawa Chlamydia avium, spesies kerabatnya yang ditemukan pada merpati dan burung beo. Risikonya bagi manusia belum jelas.

C. psittaci punya beberapa genotipe (galur), dan masing-masing cenderung dikaitkan dengan kelompok burung tertentu.

Misalnya, genotipe A khas pada burung beo, sedangkan genotipe D sangat ganas pada kalkun dan bisa menyebabkan banyak kematian.

Genotipe B dan E paling sering ditemukan pada merpati.

Ada juga beberapa spesies Chlamydia yang berbeda, dan masing-masing cenderung menyerang burung yang berbeda. Merpati terutama terserang C. psittaci dan kadang C. avium, sedangkan ayam lebih sering terserang Chlamydia gallinacea.

Karena klamidiosis disebabkan bakteri, penyakit ini biasanya bisa diobati dengan antibiotik.

Bagaimana merpati bisa tertular?

Banyak merpati membawa Chlamydia walaupun sama sekali tidak menunjukkan gejala.

Artinya, burung lain bisa tertular kuman ini dari mereka, baik di luar maupun di dalam kandang.

Namun, sebagian besar merpati sehat tidak menunjukkan gejala jika daya tahan tubuhnya baik dan tidak ada faktor pemicu lain.

Penyakit menular ini bisa menyebar dengan beberapa cara, misalnya secara horizontal dari satu burung ke burung lain, dan secara vertikal dari induk ke piyiknya.

Merpati menyuapi piyiknya

Karena ornitosis adalah penyakit zoonosis, manusia dan mamalia lain juga bisa tertular dari burung, sehingga mereka juga bisa ikut menyebarkan kuman ini.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa tungau dan artropoda lain mungkin juga bisa membawanya. Namun, yang paling sering terjadi adalah merpati tertular saat berada di luar, lalu membawa kuman itu ke lingkungannya.

Di sana, burung-burung lain ikut tertular dan mulai menunjukkan gejala, terutama jika kandangnya sangat kotor, cuaca dingin, pakannya baru diganti, atau pakan dan air bersihnya kurang.

Misalnya, saat merpati dibawa ke lomba, mereka ditempatkan berdekatan dengan merpati lain, sehingga kemungkinan tertularnya lebih tinggi.

Cara utama penularan bakteri ini dari satu burung ke burung lain adalah jalur fekal-oral (dari kotoran ke mulut) atau menghirup kuman dari udara yang tercemar.

Sayangnya, ada burung yang membawa kuman ini tanpa menunjukkan gejala selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.

Gejala ornitosis pada merpati

Ornitosis menimbulkan beberapa tanda klinis pada merpati yang sakit, tetapi kuman ini terutama menyerang sistem pernapasan dan pencernaan.

Beberapa gejala yang paling sering terlihat:

  • Keluar cairan dari hidung dan mata
  • Sinusitis
  • Bersin terus-menerus
  • Konjungtivitis (radang selaput mata)
  • Warna kotoran tidak biasa (hijau atau kuning)
  • Bulu mengembang kusut
  • Lemas
  • Tidak mau makan
  • Berat badan turun

Pada merpati, gejala pencernaan jarang lebih mencolok daripada gejala pernapasan. Beberapa burung bisa mengalami radang pada kelopak mata ketiga, terutama burung muda.

Kepalanya bengkak, salah satu matanya bisa terus meradang, dan burung mungkin menggaruk-garuk sisi kepalanya untuk mengurangi rasa tidak nyaman.

Burung lain bisa mengalami radang mata yang parah. Ada yang sampai kehilangan penglihatan, kelopak matanya tertutup rapat, dan bakteri lain yang berpotensi menimbulkan penyakit ikut terlibat, sehingga mata juga terinfeksi kuman pembentuk nanah.

Tanda pernapasan lain yang bisa dilihat pemilik adalah bernapas dengan paruh setengah terbuka. Beberapa burung juga sering menguap, sebenarnya untuk membantu dirinya bernapas lebih baik.

Ornitosis pada merpati punya dua bentuk, yaitu akut dan kronis.

Biasanya bentuk akut menyerang merpati muda. Mereka cenderung menunjukkan tanda pernapasan seperti mengi dan konjungtivitis, juga diare.

Bentuk kronis terutama menyerang merpati dewasa yang daya tahan tubuhnya sudah berkembang penuh.

Banyak yang sama sekali tidak menunjukkan gejala, tetapi itu tidak berarti mereka sehat. Mereka mungkin hanya tidak bergejala.

Simpan kartu darurat merpati di kulkas

Simpan kartu darurat merpati di kulkas

Kartu siap cetak berisi langkah satu jam pertama saat menemukan merpati terluka atau jatuh, tanda-tanda kapan harus segera mencari bantuan, dan siapa yang dihubungi. Ada juga versi seukuran dompet.

Satu email sambutan, lalu satu email per bulan berisi artikel baru.

Diagnosis ornitosis

Jika Anda melihat salah satu gejala di atas pada merpati Anda, segera hubungi dokter hewan.

Ornitosis adalah zoonosis, jadi kesehatan Anda bisa terancam jika Anda tidak menjaga kebersihan dengan ketat untuk mencegah diri Anda tertular atau menjadi pembawa kuman.

Dokter hewan akan mengambil beberapa sampel cairan tubuh dari merpati Anda.

Usapan (swab) dari mata, tenggorokan, dan kloaka, serta kotoran, biasanya diperiksa dengan PCR. Chlamydia hidup di dalam sel dan tidak tumbuh di media kultur biasa, jadi uji kultur dan kepekaan rutin tidak dipakai untuk mendiagnosisnya.

Namun, dokter hewan juga perlu membedakan ornitosis dari penyakit merpati lain, seperti radang saluran napas menular (infectious catarrh), paramyxovirus, atau salmonelosis.

Beberapa penyakit ini menimbulkan gejala yang mirip, tetapi pengobatannya berbeda. Jadi dokter hewan perlu memastikan bahwa merpati Anda memang terkena ornitosis, bukan penyakit lain.

Cara mengobatinya

Antibiotik yang paling umum dipakai untuk klamidiosis pada merpati adalah doksisiklin. Ada beberapa cara memberikan obat ini kepada merpati.

Dokter hewan mungkin menyarankan obat dalam bentuk sachet yang dicampurkan ke air minum. Namun, cara ini kurang pasti karena Anda tidak bisa mengatur berapa banyak air yang diminum setiap merpati.

Memberikan pil satu per satu biasanya cara yang baik, apalagi karena ada burung yang mungkin tidak bisa minum cukup air.

Satu hal lagi tentang antibiotik ini: hindari memberi merpati suplemen bubuk kalsium selama masa pengobatan.

Kalsium mengikat doksisiklin, sehingga obatnya menjadi kurang efektif.

Merpati yang sakit sebaiknya tidak dilepas terbang, salah satunya karena mereka mudah menularkan penyakit ke burung lain.

Pengobatan biasanya berlangsung beberapa minggu. Ikuti petunjuk dokter hewan, karena lamanya pengobatan tergantung obat, dosis, dan seberapa parah kawanan terserang.

Bisakah ornitosis pada merpati dicegah?

Pada banyak spesies burung, termasuk merpati, klamidiosis bersifat endemik. Artinya, kemungkinan ada banyak burung dewasa yang membawa kuman ini sangat tinggi.

Namun, Anda bisa merawat merpati sebaik mungkin, memberinya pakan terbaik, dan selalu menjaga kandangnya tetap bersih.

Jika Anda melihat burung dengan gejala pernapasan apa pun, pisahkan dari yang lain dan bersihkan dengan disinfektan tempat-tempat yang biasa didatangi burung.

Salah satu hal terburuk tentang kuman ini adalah ia bisa terbawa oleh inangnya dan mengering menjadi debu yang bisa terbawa angin atau menempel di dinding kandang merpati, misalnya.

Karena itu, kebersihan yang sangat baik adalah hal utama. Larutan natrium hipoklorit standar (pemutih) dan air panas biasanya cukup untuk membunuh bakteri ini.

Risiko penularan ke manusia

Manusia bisa tertular psitakosis dari merpati, kadang bahkan setelah kontak singkat dengan satu burung yang terinfeksi.

Penghobi merpati, dokter hewan, petani, dan petugas rehabilitasi satwa liar adalah kelompok yang paling sering terkena penyakit ini.

Jika salah satu burung Anda menunjukkan gejala, mulailah memakai sarung tangan dan masker saat membersihkan kandang atau memegang merpati.

Hubungi dokter hewan secepatnya, dan cuci tangan sampai bersih sebelum menyentuh permukaan lain atau orang lain.

Pada manusia, kuman ini menyebabkan gejala pernapasan, kadang sampai radang paru-paru (pneumonia).

Walaupun jarang, kuman ini bisa menyebar ke organ lain dan menimbulkan komplikasi seperti miokarditis (radang otot jantung) atau hepatitis. Orang lanjut usia dan orang dengan daya tahan tubuh lemah lebih berisiko sakit parah.

Sumber:

Panduan ini berisi informasi umum. Jika burung terluka atau sakit parah, segera bawa ke dokter hewan burung atau dokter hewan eksotik, atau ke tempat rehabilitasi satwa liar.

Simpan kartu darurat merpati di kulkas

Simpan kartu darurat merpati di kulkas

Kartu siap cetak berisi langkah satu jam pertama saat menemukan merpati terluka atau jatuh, tanda-tanda kapan harus segera mencari bantuan, dan siapa yang dihubungi. Ada juga versi seukuran dompet.

Satu email sambutan, lalu satu email per bulan berisi artikel baru.

Terakhir diperbarui: 4 November 2026 · Kesehatan