Menara merpati pada dasarnya adalah pagupon. Disebut menara karena tinggi dan bentuknya yang (kebanyakan) bulat.
Kini sudah jarang, tetapi ada beberapa yang masih bertahan sampai sekarang.
Menara seperti ini paling banyak ditemukan di Mesir dan Iran, tetapi juga tersebar di seluruh Timur Tengah.
Awal mula menara
Hubungan manusia dengan merpati sudah dimulai sejak zaman yang sangat lampau.
Para sejarawan sering menyebut bahwa manusia menjinakkan merpati karang (nenek moyang semua merpati peliharaan) paling tidak 5.000 tahun lalu, dan sebagian perkiraan menyebut sampai 10.000 tahun lalu.

Ketika manusia mulai bercocok tanam dan menetap, merpati mendekati desa-desa mereka. Merpati selalu pandai memanfaatkan kesempatan, jadi mereka datang mencari biji, gabah dan sisa makanan.
Manusia melihat merpati sebagai sumber makanan yang mudah didapat.
Untuk memelihara dan mengembangbiakkannya, manusia membangun tempat tinggal khusus bagi merpati.
Menara terbanyak yang masih berdiri, dan sebagian masih dipakai, ada di Timur Tengah. Seiring peradaban menyebar, kebiasaan memelihara merpati ikut menyebar.
Tradisi Mesir
Wajar jika Mesir Kuno, salah satu peradaban besar pada masanya, ikut memelihara merpati.
Merpati muncul dalam catatan dan lukisan makam Mesir kuno, termasuk daftar persembahan dan gambar burung yang dipelihara.
Orang Mesir memelihara merpati untuk dimakan. Sampai sekarang merpati masih dianggap hidangan istimewa di Mesir, biasanya diisi nasi atau freekeh (gandum muda sangrai) lalu dipanggang.
Mereka memakai kotoran merpati sebagai guano (pupuk) dan menemukan banyak kegunaan lain dari burung ini.
Memelihara burung dalam jumlah besar butuh tempat tinggal. Saat ini kita memelihara merpati peliharaan di sangkar, kandang merpati, atau pagupon.
Orang Mesir membangun menara khusus sebagai rumah merpati.
Merpati suka menara itu karena mirip tebing berbatu dan celah-celah tempat mereka bertengger, bersarang, kawin, dan membesarkan anak di alam liar.
Arsitektur menara
Kadang tukang menambahkan sentuhan sendiri atau sesuai selera pemiliknya, tetapi bentuk dasarnya berupa dinding luar yang bulat, sering setinggi beberapa meter, dengan atap di atasnya.
Menara dari bata lumpur ini diperkuat dengan balok kayu.
Di dalam dinding luar dibangun menara lain yang tingginya kira-kira sepertiga menara luar. Menara dalam inilah yang berisi ceruk-ceruk sarang merpati.

Merpati keluar masuk lewat lubang di dinding luar yang pas untuk ukuran tubuhnya, tetapi terlalu kecil untuk burung pemangsa dan predator lain.
Itulah desain dasarnya, tetapi ada banyak variasinya.
Ada menara yang hanya terdiri dari dinding luar, dengan ceruk sarang yang dibentuk langsung di sisi dalam dinding yang melengkung.
Sebagian menara punya kotak tenggeran, lubang atau tepian di dalamnya, tempat burung bertelur.

Karena juga terbuat dari lumpur, bagian ini mudah dilepas dan diganti.
Menara merpati menjadi bagian dari pemandangan kota. Banyak yang berbentuk kerucut.
Dari dasar yang lebar, menara itu meruncing ke atas dan berakhir dengan puncak bulat yang tertutup.
Meskipun fungsinya praktis, orang menghiasnya dengan berbagai cara. Lewat desainnya, para tukang membuat bangunan ini juga enak dipandang.
Ada yang dibiarkan berwarna asli bahan bangunannya, seperti bata lumpur, ada pula yang dicat. Permukaan luarnya bisa halus atau diplester kasar.
Ciri lain menara adalah lubang masuknya. Bentuknya bisa persegi, bulat atau melengkung. Di bawahnya kadang ada tepian yang menonjol sebagai tempat bertengger.

Letak dan susunan lubang masuknya pun beragam. Ada yang lubangnya di dekat puncak menara, ada yang tersebar di beberapa ketinggian.
Ada juga yang dikelompokkan sehingga membentuk pola berulang. Kadang ada tiang yang mencuat di bawah atau dekat lubang untuk bertengger, sama fungsinya dengan tepian tadi.
Di Siwa, misalnya, Anda bisa melihat menara tinggi yang dikapur putih dengan pola lubang yang rumit dan tiang-tiang mencuat dari dindingnya.
Di Mit Ghmir, di Delta Sungai Nil, (opens in new tab) pemandangannya mirip New York mini, dengan puluhan menara tanah liat yang menjulang.
Industri pariwisata sudah meliriknya, dan menara-menara ini menjadi objek wisata yang unik.
Cara lama yang bertahan
Menara merpati di Mesir sudah dibangun dengan cara ini sejak dulu kala.
Meskipun sudah ada bahan dan teknik bangunan baru, bentuknya tetap sama.
Alasannya, menara seperti ini mudah dibangun. Bahannya alami, mudah didapat dan murah.
Yang dibutuhkan hanya sedikit tenaga. Untuk apa mengubah sesuatu yang sudah berfungsi dengan baik?
Setiap penghobi merpati yang mewariskan hobinya ke generasi berikutnya juga mewariskan pola desainnya. Dengan begitu, menara merpati menjadi bagian dari budaya arsitektur Mesir.
Menara bukan satu-satunya cara orang Mesir menyediakan rumah bagi merpati, dulu maupun sekarang.
Jika Anda memandang kawasan permukiman yang lebih miskin di Kairo, Anda akan melihat menara dan kandang merpati di atas atap rumah.
Tersebar ke banyak negeri
Menara seperti ini tidak hanya ada di Mesir.
Bangunan serupa tersebar di banyak negara Timur Tengah dan jauh di luarnya.
Hobi memelihara merpati sampai ke benua Amerika dan Tiongkok.
Banyak bangunan yang lebih baru, yang kita sebut pagupon, masih mengikuti desain dasar ini, dan sebagian menjadi bangunan yang indah.
Negara yang paling menyaingi Mesir, baik dalam jumlah menara maupun kekokohan desainnya, adalah Iran.
Menara merpati Iran
Masa jaya merpati di Iran terjadi pada abad ke-16 dan ke-17.
Burung ini memang dipelihara untuk dagingnya, tetapi terutama untuk guano-nya, yang dipakai sebagai pupuk di ladang melon dan mentimun yang sangat dihargai.
Menara merpati terbesar di Iran, terutama di wilayah Isfahan, dilaporkan tingginya sampai sekitar 18 meter dengan diameter lebih dari 20 meter.

Menara ini mengikuti desain dasar Mesir, yaitu menara yang dipenuhi sarang bersusun seperti sarang lebah (opens in new tab), dan kadang dikelompokkan ke dalam beberapa bentuk tradisional.
Para tukang menambahkan sentuhan dan hiasan arsitektur khas mereka sendiri.
Seperti menara di Mesir, menara ini dibangun dari bata lumpur, tetapi banyak yang dilapisi plester dan kapur, dan sebagian disebut-sebut sebagai pagupon terindah di dunia.
Menara terbesar konon bisa menampung sampai 14.000 ekor burung.
Dulu ada ribuan menara, tetapi kini hanya sedikit yang masih dipakai, dan banyak yang rusak sejak dunia beralih ke pupuk buatan.
Menurut sebagian perkiraan, sekitar 300 menara masih tersisa di sekitar Isfahan, dan untungnya bagi sejarah manusia dan merpati, sebagian di antaranya dilindungi dalam Daftar Warisan Nasional Iran.
Terakhir diperbarui: 4 November 2026 · Fakta
