Ada sedikit bukti ilmiah, dan banyak cerita dari para pemilik, bahwa merpati punya perasaan.
Merpati adalah burung yang setia pada satu pasangan, menunjukkan kasih sayang kepada pasangannya, dan juga kepada manusia yang merawatnya jika ia sudah merasa nyaman.
Naluri hewan
Banyak pemilik hewan berani bersumpah bahwa hewannya bisa memahami mereka dan menunjukkan berbagai macam emosi.
Yang paling sering bilang begitu pemilik kucing dan anjing, tetapi reaksi emosional sudah tercatat pada berbagai jenis hewan.
Pertanyaannya: apakah reaksi ini hanya naluri yang dipicu rangsangan tertentu, atau perasaan sungguhan seperti yang kita kenal sebagai manusia?
Sebuah berita singkat yang banyak dibagikan bercerita tentang seekor gorila di penangkaran.
Gorila ini dibawa ke penangkaran saat masih bayi yatim.

Ia dipilih untuk ikut percobaan tentang kecerdasan hewan dan diajari bahasa isyarat.
Salah satu perawat awalnya pensiun, tetapi datang lagi menjenguk gorila itu bertahun-tahun kemudian.
Para pengamat melihat tanda-tanda jelas bahwa gorila itu mengenali dan senang bertemu dengannya.
Menurut cerita itu, di akhir kunjungan gorila itu berisyarat kepada perawat lamanya, “Aku sayang kamu.”
Itu tampak seperti perasaan, tetapi kera besar seperti gorila dan simpanse memang punya sekitar 98% DNA yang sama dengan kita.
Lalu, bagaimana dengan merpati?
Ekspresi
Mungkin petunjuk terbaik tentang perasaan manusia maupun hewan adalah ekspresi wajahnya.

Kita bisa memahami perasaan orang hanya dengan melihat ekspresi wajahnya.
Pada hewan bisa juga begitu.
Namun kebanyakan hewan punya ekspresi wajah yang terbatas, jadi perasaannya juga harus dinilai atau ditebak dari perilakunya.
Merpati termasuk hewan yang tidak punya ekspresi wajah untuk menilai perasaannya.
Satu-satunya cara mengukur emosinya adalah perilaku, bukan ekspresi.
Otak burung
Kita semua pernah mendengar ejekan “otak burung”.
Artinya bodoh, dan begitulah pandangan umum orang tentang merpati.
Yang mereka lihat hanya makhluk tanpa pikiran yang terus makan dan buang kotoran di mana saja.

Sebaliknya, penghobi merpati, penggemar balap merpati dan ilmuwan akan bilang lain.
Merpati adalah hewan yang sangat cerdas.
Merpati bisa belajar dan dilatih.
Percobaan menunjukkan merpati bisa mempelajari kategori, mengenali orang tertentu, dan membedakan sebagian kata tertulis dari yang bukan kata.
Beberapa penelitian melaporkan merpati bisa lulus semacam “uji cermin”, meskipun hal ini masih diperdebatkan.
Jika benar, itu menunjukkan adanya kesadaran diri sampai tingkat tertentu.
Itu berarti ada semacam pikiran.
Banyak orang menganggap adanya pikiran sebagai tanda bahwa perasaan juga ada.
Sayangnya, ini sulit dibuktikan.
Kawin
Tampilan emosi terbesar yang bisa Anda lihat pada merpati adalah saat kawin atau saat mati-matian melarikan diri dari predator.
Saat menghindari bahaya, merpati pasti merasa takut.
Ini emosi purba untuk bertahan hidup.
Kawin lain lagi ceritanya.
Merpati setia dan biasanya berpasangan seumur hidup, tetapi kita tidak bisa tahu apakah merpati merasakan cinta seperti kita.

Seperti banyak hewan lain, merpati punya ritual kawin yang rumit.
Pendekatan ini dorongan biologis, bukan pilihan.
Ini dorongan naluriah untuk berkembang biak dan melestarikan jenisnya.
Pacaran merpati sebagian besar didorong hormon dan naluri, jadi tidak banyak yang bisa kita simpulkan dari situ tentang kemampuannya merasa.
Merpati menunjukkan kasih sayang
Para pemilik yang memelihara merpati peliharaan seekor saja mencatat bahwa merpati betina bisa terikat dengan pemilik laki-laki.
Merpati itu bisa jadi genit dan menunjukkan kasih sayang kepada pemiliknya.
Salah satu penjelasannya, karena tidak ada merpati jantan untuk dijadikan pasangan, naluri betina membuatnya menganggap teman terdekatnya, yaitu pemiliknya, sebagai pasangan.
Merpati menunjukkan kebencian
Cinta dan benci adalah emosi yang kuat pada manusia.
Pada hewan, diragukan apakah hewan benar-benar bisa membenci.

Yang ada pada hewan adalah rasa takut naluriah.
Kebanyakan hewan punya musuh alami, yaitu hewan lain yang memangsanya. Bukan karena benci, merpati mungkin menyerang sesuatu yang tampak mengancam karena takut.
Rasa tanggung jawab
Satu hal unik yang tercatat dan diakui pada merpati adalah keberanian dan kegigihannya.
Sejak dulu merpati pos dipakai untuk mengantar pesan.
Selama dua Perang Dunia, merpati pos banyak dipakai pasukan kedua belah pihak.
Sebagian mendapat penghargaan atas jasanya. Di Inggris, 32 merpati menerima Medali Dickin, penghargaan untuk hewan di masa perang.

Lalu muncul pertanyaan: apakah merpati-merpati itu sengaja berani dan punya rasa tanggung jawab?
Kita tahu merpati pos punya dorongan naluriah untuk pulang ke kandangnya, tetapi terbang menembus pengeboman dan tembakan penembak jitu itu ekstrem.
Banyak dari burung ini terluka, tetapi kembali bertugas setelah pulih.
Anda mungkin mengira kebanyakan hewan akan lari dari suara dan bahaya pertempuran dan tidak kembali, tetapi merpati-merpati itu tidak.
Jadi, apakah merpati-merpati itu “merasakan” tanggung jawab dan kesetiaan?
Tanyakan saja pada merpati
Sayangnya, mustahil memastikan apakah merpati punya perasaan atau tidak.
Kita tidak bisa bertanya, karena merpati tidak bisa bicara.
Ilmu pengetahuan belum menemukan cara yang pasti untuk membuktikan atau membantahnya.
Lagi pula, tidak banyak orang yang terlalu memikirkan pertanyaan ini.
Para pemilik merpati mungkin sudah punya jawaban pasti sendiri.
Apakah merpati berduka?
Merpati berpasangan seumur hidup dan punya ikatan kuat dengan pasangan dan anaknya. Para pemilik melaporkan tanda-tanda tertekan saat pasangan atau anak merpati mati, meskipun hal ini sulit dibuktikan secara ilmiah. Artikel kami Apakah merpati berduka? membahasnya lebih rinci.
Terakhir diperbarui: 4 November 2026 · Perilaku
