Sebagian besar merpati tidak terancam punah, tetapi beberapa dari lebih dari 300 spesies merpati dan dara memang terancam. IUCN (opens in new tab) saat ini mencatat 13 spesies merpati sebagai Kritis (critically endangered), 17 Genting (endangered), 29 Rentan (vulnerable), dan 48 Hampir Terancam (near threatened). Daftar di bawah mengikuti penilaian Daftar Merah IUCN untuk burung yang dilakukan BirdLife International, yang berubah seiring survei baru.

Merpati berstatus Kritis:
1. Grenada dove
Leptotila wellsi atau Grenada dove endemik di Pulau Grenada dan merupakan burung nasional Grenada. Penilaian tahun 2021, berdasarkan survei tahun 2013, memperkirakan jumlah burung dewasanya 136-182 ekor.

Ancaman terbesar burung ini adalah hilangnya habitat hutan, tetapi belum lama ini populasi Grenada dove juga menurun karena masuknya spesies pemangsa dari luar.
2. Negros bleeding heart
Gallicolumba keayi endemik di Panay dan Negros, dua pulau di Filipina, dan hidup di kawasan berhutan.
Hilangnya habitat secara besar-besaran dan perburuan sembarangan untuk dimakan membuat populasinya sangat terpecah-pecah.
Menurut penilaian terakhir tahun 2021, tinggal kurang dari 250 ekor Negros bleeding heart di alam liar.
3. Mindoro bleeding heart
Spesies ini sejenis merpati tanah (ground dove) dan hanya ditemukan di hutan Pulau Mindoro, Filipina.
Tinggal kurang dari 250 ekor Gallicolumba platenae, dan jumlahnya terus menurun karena hilangnya habitat, pemangsaan oleh anjing dan kucing liar, serta perburuan untuk dimakan.
4. Tooth-billed pigeon
Hanya sedikit yang diketahui tentang Didunculus strigirostris, selain jumlahnya yang sangat sedikit (50-150 burung dewasa menurut penilaian tahun 2025).

Tooth-billed pigeon adalah spesies besar yang endemik di Samoa, dan habitat kesukaannya adalah hutan pulau itu yang belum terganggu.
Sayangnya, ini berarti wilayah sebarannya sangat terbatas, dan burung ini juga menghadapi ancaman hilangnya habitat, pemangsaan, dan cuaca ekstrem seperti siklon.
5. Sulu bleeding heart
Merpati Filipina lain yang terancam punah, Gallicolumba menagei, hanya ditemukan di Pulau Tawi-Tawi dan pulau-pulau kecil di sekitarnya.
Sebagian besar hutan bertajuk rapat yang menjadi habitat kesukaannya sudah dibuka, dan tidak ada kawasan lindung di sana.
Jumlahnya begitu sedikit sehingga ada kekhawatiran serius bahwa spesies ini hampir punah.
6. Rapa fruit dove
Ptilinopus huttoni tinggal di Pulau Rapa yang mungil, salah satu Kepulauan Tubuai di Polinesia Prancis, dan jumlahnya terus menurun.
Burung ini hidup di dua sampai lima lokasi di hutan pulau itu, dan habitat ini rusak karena masuknya tanaman jambu stroberi (strawberry guava) untuk pertanian.
Dua survei, pertama tahun 1990 lalu tahun 2017, menunjukkan populasinya turun 40%. Jumlahnya terus menurun.
7. Negros fruit dove
Sangat sedikit yang diketahui tentang Ptilinopus arcanus, yang hidup di Pulau Negros dan Panay di Filipina.
Selain satu penampakan yang dipastikan pada tahun 1953, satu laporan penampakan pada tahun 1990-an, dan beberapa temuan di Pulau Panay, jumlah burung spesies ini belum bisa dipastikan.
Spesies ini diduga hampir punah karena masih terancam hilangnya habitat dan perburuan.
8. Merpati-hutan perak (silvery pigeon)
Pernah dianggap punah, tetapi berkat beberapa laporan penampakan kini digolongkan Kritis, merpati-hutan perak (Columba argentina), yang juga dikenal sebagai grey wood pigeon, ditemukan di Indonesia dan Malaysia.

Meski begitu, menurut penilaian tahun 2019, tinggal kurang dari 50 burung dewasa karena habitatnya terus hilang dan dimangsa spesies pendatang.
9. Cebu brown dove
Spesies ini pernah dianggap punah, sampai ditemukan kembali pada tahun 1990-an.
Phapitreron frontalis endemik di Pulau Cebu, Filipina, tempat habitat hutannya terus terancam dibuka untuk pertanian dan perkotaan.
10. Blue-eyed ground dove
Padang rumput kering dataran rendah di kawasan Cerrado, Brasil, yang cepat menyusut adalah rumah bagi kurang dari 250 ekor Columbina cyanopis (menurut penilaian tahun 2019).

Blue-eyed ground dove tidak tercatat selama puluhan tahun setelah 1941 dan dikhawatirkan punah, sampai sekelompok kecil ditemukan pada tahun 2015.
11. Purple-winged ground dove
Dengan habitat utama di hutan bambu Atlantik di Brasil, Argentina, dan Paraguay, jumlah Paraclaravis geoffroyi menyusut drastis karena perdagangan burung liar dan hilangnya habitat.
Penilaian tahun 2025 memperkirakan populasinya kurang dari 50 burung dewasa, dan catatan terbaru sangat jarang.
12. Polynesian ground dove
Dengan jumlah yang dinilai hanya 150 ekor pada tahun 2017, Pampusana erythroptera endemik di beberapa pulau di Polinesia Prancis.
Ancaman terbesar bagi spesies ini belakangan ini adalah tikus hitam, walaupun sudah ada upaya menyingkirkan tikus dari beberapa pulau. Ancaman lain adalah pemangsaan oleh kucing, hilangnya dan rusaknya habitat, serta bencana alam seperti siklon. Upaya konservasi masih berlangsung.
13. Black-naped pheasant pigeon
Hidup di hutan di atas sekitar 1.000 m di Pulau Fergusson, Papua Nugini, Otidiphaps insularis terancam hilangnya habitat dan perburuan.

Selama puluhan tahun burung ini tidak tercatat oleh ilmuwan, walaupun penduduk setempat terus melaporkannya. Penilaian Juli 2021 memperkirakan jumlahnya 49-250 ekor, kemungkinan mendekati angka terendah. Pada tahun 2022, sebuah ekspedisi merekam burung ini dalam video untuk pertama kalinya dalam lebih dari seabad.
Selain memperkirakan jumlah populasi, IUCN juga mencatat tren populasinya. Sembilan dari 13 merpati berstatus Kritis digolongkan menurun. Untuk empat lainnya (Sulu bleeding heart, Negros fruit dove, Cebu brown dove, dan purple-winged ground dove), catatannya terlalu sedikit untuk menilai trennya.
Merpati berstatus Genting:
| Spesies | Lokasi | Jumlah | Ancaman | Tren populasi |
|---|---|---|---|---|
| Blue-headed quail dove | Kuba | 600-1.700 | Penggundulan hutan | Menurun |
| Tawitawi brown dove | Pulau Tawi-Tawi dan Sanga-Sanga, Filipina | 500-2.500 | Penggundulan hutan | Menurun |
| Timor green pigeon (Treron psittaceus) | Timor Leste dan Timor Barat, Indonesia | 660-2.000 | Penggundulan hutan dan perburuan | Menurun |
| Marquesas ground dove | Kepulauan Marquesas, Polinesia Prancis | 50-249 | Penggundulan hutan, pemangsaan (kucing), dan perubahan iklim | Stabil |
| Wetar ground dove | Timor Barat dan Wetar, Indonesia, serta Timor Leste | 1.500-7.000 | Hilangnya habitat dataran rendah yang parah dan perburuan. | Menurun |
| Comoro green pigeon | Kepulauan Komoro | 1.000-2.499 | Penggundulan hutan, spesies invasif, dan perburuan liar | Menurun |
| Tuxtla quail dove | Sierra de los Tuxtlas, Meksiko | 250-999 | Hilangnya habitat | Menurun |
| Polynesian imperial pigeon | Makatea, Polinesia Prancis | 570-1.200 | Kerusakan habitat akibat tambang | Meningkat |
| Raiatea fruit dove | Huahine, Raiatea, Tahaa, Bora Bora, dan Maupiti, Polinesia Prancis | 1.000-2.499 | Masuknya pemangsa swamp harrier, perburuan, dan kerusakan habitat. | Menurun |
| Purple quail dove | Kawasan Chocó, Kolombia, dan Ekuador barat laut | 600-1.700 | Hilangnya habitat akibat produksi koka dan tambang. | Menurun |
| Nukuhiva imperial pigeon | Kepulauan Marquesas, Polinesia Prancis | 200-249 | Perburuan liar, hilangnya dan rusaknya habitat. | Meningkat |
| Santa Cruz ground dove | Kepulauan Santa Cruz, Kepulauan Solomon, dan Espiritu Santo, Vanuatu | 218-1.070 | Pemangsaan oleh tikus, kucing, dan anjing, semut gila kuning (yellow crazy ant), perburuan, gunung berapi, dan siklon. | Menurun |
| São Tomé olive pigeon | São Tomé | 2.600-3.700 | Perburuan. | Menurun |
| White-fronted quail dove | Republik Dominika | 600-1.700 | Hilangnya habitat, perburuan, spesies pendatang. | Menurun |
| Caroline ground dove | Berbagai pulau di Negara Federasi Mikronesia | 200-500 | Spesies pendatang, perburuan, hilangnya habitat. | Menurun |
| Palau ground dove | Palau | 250-999 | Masuknya spesies asing dan hilangnya habitat. | Menurun |
| São Tomé green pigeon | São Tomé | 24.670-72.840 | Perburuan dalam jumlah sangat besar. | Menurun |
Seperti terlihat dari baris terakhir daftar ini, populasi tidak harus kecil untuk digolongkan Genting. Jumlah São Tomé green pigeon menurun tajam karena perburuan untuk konsumsi sendiri maupun komersial, dan laju penurunannya sangat mengkhawatirkan.
Ini menunjukkan bahwa suatu spesies bisa digolongkan terancam karena penurunannya cepat, tidak hanya karena jumlahnya sedikit.
Mengapa merpati bisa terancam punah?
Spesies yang terancam punah adalah spesies yang berisiko punah di seluruh atau sebagian besar wilayah sebarannya. Daftar Merah Spesies Terancam IUCN adalah katalog spesies terancam yang paling dikenal. Datanya dihimpun oleh International Union for Conservation of Nature (opens in new tab).
Penyebab menurunnya jumlah merpati yang terancam punah sama dengan hewan lain, yaitu:
- Perburuan atau pemanenan berlebihan
- Hilangnya habitat
- Spesialisasi yang tinggi
- Polusi
- Spesies invasif
- Konflik antara manusia dan satwa liar
- Penyakit
- Tingkat kelahiran rendah
- Kerentanan genetik
- Populasi kecil
Merpati berstatus Rentan:
Daftar saat ini:
- Yellow-legged pigeon
- Ochre-bellied dove
- New Britain bronzewing
- Ring-tailed pigeon
- Mindanao bleeding-heart pigeon
- Dark-eared brown dove
- Brown-backed dove
- Pink pigeon
- Pale-capped pigeon
- Chatham pigeon
- Makatea fruit dove
- Spotted imperial pigeon
- Carunculated fruit dove
- Flores green pigeon
- Sri Lanka woodpigeon
- Large green pigeon
- Philippine collared dove
- Henderson fruit dove
- Red-naped fruit dove
- White-naped pheasant pigeon
- Yellow-eyed pigeon
- Scheepmaker’s crowned pigeon
- European turtle dove
- Grey-headed quail dove
- Western crowned pigeon
- Pemba green pigeon
- Micronesian imperial pigeon
- Cinnamon-headed green pigeon
- Jambu fruit dove
Dari daftar di atas, semua jumlahnya menurun kecuali pink pigeon (stabil), Chatham pigeon (meningkat), Makatea fruit dove (stabil), dan Henderson fruit dove (stabil).
Merpati berstatus Hampir Terancam:
Kami tidak akan mencantumkan semua 48 anggota famili Columbidae yang digolongkan Hampir Terancam, tetapi akan membahas beberapa di antaranya beserta kisahnya.
1. Junai emas (Nicobar pigeon)
Salah satu anggota Columbidae dengan penampilan paling mencolok, junai emas adalah kerabat terdekat dodo yang sudah punah yang masih hidup.

Jumlah populasinya saat ini tidak diketahui. Burung ini diburu untuk dimakan dan ditangkap untuk perdagangan hewan peliharaan, dan batu dari empedalnya pernah dipakai untuk membuat perhiasan.
2. Galapagos dove
Kebanyakan orang mengira Kepulauan Galapagos adalah surga bagi satwa liar karena tempat ini sangat diawasi secara ekologis.
Salah satu spesiesnya yang jumlahnya tidak terlalu baik adalah Galapagos dove.

Berbeda dari banyak spesies dalam daftar ini, yang terutama terancam hilangnya habitat dan perburuan, ancaman utama burung ini adalah pemangsa pendatang seperti kucing liar. Anak burung di sarang juga bisa diserang larva lalat vampir burung (Philornis downsi).
3. Mambruk victoria (Victoria crowned pigeon)
Ini salah satu merpati terbesar di dunia dan hidup di hutan dataran rendah Papua bagian utara. Burung ini mudah dikenali dari ukurannya dan jambulnya yang seperti renda.

Mambruk victoria digolongkan Hampir Terancam karena diburu, baik oleh penduduk setempat maupun secara komersial, untuk diambil daging dan bulunya.
4. Russet-crowned quail dove
Spesies ini menunjukkan bagaimana proyek pembangunan manusia bisa memengaruhi satwa liar.

Populasi spesies ini saat ini tercatat stabil, tetapi russet-crowned quail dove digolongkan Hampir Terancam oleh IUCN karena ancaman yang akan muncul jika rencana perpanjangan Jalan Raya Pan-Amerika dihidupkan kembali.
5. Plain pigeon
Dulu melimpah dan tersebar luas di Karibia, plain pigeon kini sudah sangat berkurang.

Kini burung ini hanya diketahui ada di Kuba, Jamaika, Hispaniola (Haiti dan Republik Dominika), dan Puerto Riko.
Luas habitat plain pigeon menyusut karena perkebunan dan penebangan hutan, dan dulu spesies ini juga diburu untuk dimakan.
Arti status terancam yang sebenarnya
Para konservasionis memakai penggolongan IUCN ini untuk menentukan prioritas.
Spesies berstatus Kritis menghadapi risiko punah yang nyata.
Banyak pemerintah melindungi spesies berstatus Kritis dan Genting, dan beberapa spesies Hampir Terancam juga ikut terbantu oleh upaya konservasi.
Lebih dari selusin anggota famili Columbidae tercatat sudah punah.
Di antaranya Choiseul pigeon, passenger pigeon (merpati pengembara), Liverpool pigeon, dan tentu saja dodo, lambang semua satwa liar yang sudah punah.
Sumber
- IUCN Red List of Threatened Species (opens in new tab)
- BirdLife International DataZone (opens in new tab): lembar fakta spesies dengan kategori Daftar Merah, perkiraan populasi, dan trennya
- HBW and BirdLife International (2025) Digital checklist of the birds of the world, version 10 (opens in new tab) (kategori Daftar Merah 2025)
Terakhir diperbarui: 4 November 2026 · Fakta
